Chazizah Gusnita - detikinet
"Ngomong seperti itu sah-sah saja. Itu bagian strategi politik," kata pengamat politik dari LIPI Lili Romli kepada detikcom, Jumat (11/1/2008).
Menurut Romli, yang menentukan pemimpin negara adalah rakyat melalui pemilihan langsung. Bukan Pak Harto bukan juga elit politik.
"Seperti tahun 2004 lalu kan seperti itu. Elit politik bergabung memilih Mega. Tapi ternyata rakyat milih SBY," ujarnya.
Menurut Romli, seharusnya PDIP menggunakan strategi yang rasional bukan memanfaatkan momen sakitnya Pak Harto seperti ini.
"Jangan sistem wasiat seperti ini," imbuhnya.
Namun, lanjut Romli, bisa saja rakyat terpengaruh dengan hal seperti itu. Apalagi para pendukung Pak Harto. Hal inilah yang mungkin menjadi pertimbangan PDIP.
"Mungkin karena pertimbangan itulah. Kalau Pak Harto bilang seperti itu, pengikutnya bisa saja ke Mega," analisisnya.
Meski begitu, rakyat tidak bodoh untuk mempercayai hal tersebut. Rakyat Indonesia punya pemikiran yang dewasa untuk memilih pemimpinnya. Ketika ada yang mampu menentaskan kemiskinan dan kelaparan mereka, rakyat akan memilih pemimpin itu. Bukan karena ucapan semata.
"Perang media massa kan memberikan pendidikan juga. Kita memang nggak bisa melarang strategi yang dilakukan PDIP tersebut. Malah jangan-jangan itu nanti jadi kontraproduktif bagi PDIP," cetusnya.
Sementara itu pengamat politik LIPI lainnya, Prof Syamsudin Haris menilai hal tersebut tidak ada yang luar biasa.
"Itu hanya diplomatis saja. Tidak ada yang luar biasa," katanya kepada detikcom.
Menurut Haris, dirinya tidak tahu apakah harus mempercayai ucapan itu atau tidak.
"Kita tidak bisa menafsirkan sesuatu yang belum jelas maksudnya," ujarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar